{"id":332,"date":"2025-12-07T11:54:29","date_gmt":"2025-12-07T11:54:29","guid":{"rendered":"https:\/\/psmt.ft.undip.ac.id\/?p=332"},"modified":"2025-12-07T11:54:29","modified_gmt":"2025-12-07T11:54:29","slug":"unite-the-voices-elevate-the-harmony-choral-seminar-workshop-2025","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psmt.ft.undip.ac.id\/index.php\/2025\/12\/07\/unite-the-voices-elevate-the-harmony-choral-seminar-workshop-2025\/","title":{"rendered":"Unite the Voices, Elevate the Harmony: Choral Seminar Workshop 2025"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"4740\" height=\"3074\" src=\"https:\/\/psmt.ft.undip.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/IMG_9513-1-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-334\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bernyanyi dalam paduan suara bukan hanya soal menghasilkan nada yang tepat, tetapi bagaimana tiap suara bisa menyatu dan saling melengkapi sehingga tercipta harmoni yang utuh nan indah. Ada banyak detail kecil, dari cara bernapas, artikulasi yang jelas, hingga rasa saat menyanyikan sebuah lagu untuk membentuk harmoni yang terasa hidup. Untuk dapat memahami itu semua, Choral Seminar Workshop 2025 hadir sebagai ruang belajar yang menyenangkan, interaktif, dan penuh wawasan baru.<br><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam acara ini para peserta berkesempatan untuk mengembangkan keterampilan bernyanyi bersama sekaligus memperluas wawasan mereka tentang dunia <em>choir<\/em>, langsung dari <em>conductor <\/em>ternama yang aktif dan dikenal di dunia <em>choir<\/em>, Jessica Fedora Amadea, <em>choir <\/em>conductor dari Penabur Children Choir. Dengan gaya yang santai tetapi tetap penuh <em>insight<\/em>, <em>conductor <\/em>yang kerap disapa Kak Dea ini mengajak para peserta mengeksplorasi berbagai aspek penting dalam bernyanyi. Mulai dari teknik vokal dasar, cara mengontrol nafas, bagaimana membangun harmoni antar suara, hingga tips memahami karakter lagu, semuanya dibawakan dengan bahasa yang sederhana, ringan, dan mudah dicerna.<br><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak hanya menerima secara satu arah, peserta juga diajak berdiskusi melalui sesi tanya jawab yang terbuka sehingga menciptakan ruang belajar yang menghadirkan banyak perspektif. Berbagai pertanyaan muncul, mulai dari cara menjaga stamina suara, tantangan bernyanyi di situasi tertentu, sampai bagaimana menginterpretasikan musik dengan lebih ekspresif. Semua terjawab oleh Kak Dea dengan jelas dan <em>relatable<\/em>, menjadikan sesi ini salah satu bagian yang paling berkesan bagi peserta.<br><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"5184\" height=\"3456\" src=\"https:\/\/psmt.ft.undip.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/IMG_9391-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-320\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di balik terselenggaranya acara ini, tentu ada proses panjang dari panitia. Bernadette Ardiyan, Penanggung Jawab Choral Seminar Workshop (CSW) 2025, mengakui bahwa persiapan tidak selalu berjalan mulus. \u201cTantangan terbesarnya itu pas cari peserta, terutama yang eksternal. Untuk teman-teman internal PSMT Undip cukup mudah, tapi untuk umum agak sulit karena publikasi kami waktu itu kurang gencar. Lalu sempat juga kesulitan cari venue yang sesuai sampai akhirnya dapat tempat di Art Center. Ada beberapa miskomunikasi juga dalam kepanitiaan, tapi syukurnya bisa cepat diselesaikan karena teman-teman panitia adaptif.\u201d, jelasnya. Meski begitu, Bernadette merasa puas dengan hasil akhir acara. \u201cKeberjalanannya sesuai harapan. Kak Dea sangat informatif dan komunikatif. Banyak peserta yang merasa terbantu, apalagi buat persiapan NCC dan EIH saat itu. Aku sebagai PJ sangat puas dan berterima kasih ke semua panitia dan peserta CSW tahun ini.\u201d<br><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengalaman menarik juga datang dari para peserta, Audrey Theodora, peserta CSW sekaligus singer alto angkatan 2025, membagikan kesannya mengikuti kegiatan ini. \u201cBener-bener bermanfaat sih, serius. Apalagi pas sesi nyoba nyanyi langsung. Soalnya kalau cuma teori suka <em>ngawang<\/em>, tapi pas praktik tuh baru kerasa, \u2018<em>Oh ternyata salahku di sini<\/em>.\u2019 Terus enaknya langsung dikoreksi satu-satu. <em>Vibes<\/em>-nya juga enak, ga tegang tapi tetap dapet ilmunya. Aku pulang tuh merasa banyak banget yang bisa aku <em>improve<\/em>,\u201d ceritanya. Saat ditanya apakah ia ingin ikut lagi tahun depan, Audrey menjawab jujur, \u201c<em>Maybe <\/em>iya, hanya saja sepertinya kalau materinya sama, aku ga ikut karena takut repetitif. Tapi kalau pematerinya beda atau materinya diperluas, aku pasti tertarik ikut lagi. Yang penting ada hal baru yang bisa dipelajarin.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di akhir acara, seluruh peserta diajak menyanyikan sebuah karya pendek bersama-sama. Sesi ini menjadi ruang untuk menerapkan teknik yang mereka pelajari sepanjang hari. Meski singkat, momen bernyanyi bersama ini terasa hangat dan menyatukan, seolah mengikat semua wawasan, pengalaman, dan kebersamaan hari itu dalam satu harmoni yang sama. Dengan seluruh proses, antusiasme peserta, dukungan panitia, dan ilmu yang diberikan, Choral Seminar Workshop 2025 bukan hanya sekadar forum belajar. Ia menjadi ruang tumbuh, ruang berbagi, dan ruang menguatkan satu sama lain lewat suara dan musik.<br><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bernyanyi dalam paduan suara bukan hanya soal menghasilkan nada yang tepat, tetapi bagaimana tiap suara bisa menyatu dan saling melengkapi sehingga tercipta harmoni yang utuh nan indah. Ada banyak detail kecil, dari cara bernapas, artikulasi yang jelas, hingga rasa saat menyanyikan sebuah lagu untuk membentuk harmoni yang terasa hidup. Untuk dapat memahami itu semua, Choral [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":334,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"cybocfi_hide_featured_image":"yes","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-332","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psmt.ft.undip.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/332","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psmt.ft.undip.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psmt.ft.undip.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psmt.ft.undip.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psmt.ft.undip.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=332"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/psmt.ft.undip.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/332\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":336,"href":"https:\/\/psmt.ft.undip.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/332\/revisions\/336"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psmt.ft.undip.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/334"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psmt.ft.undip.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=332"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psmt.ft.undip.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=332"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psmt.ft.undip.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=332"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}